Apa yang Baru dan Menarik dari Majalah Peradilan Agama Edisi VII?

Apa yang Baru dan Menarik dari Majalah Peradilan Agama Edisi VII?


pa-buol.go.id, 

Majalah Peradilan Agama edisi VII (Oktober 2015) telah terbit, baik secara cetak maupun digital. Secara simbolis, Sekretaris Ditjen Badilag H. Tukiran, S.H., M.M. menyerahkan hasil produksi majalah ini kepada Dirjen Badilag Drs. H. Abdul Manaf, M.H. pekan lalu.

Sekditjen Badilag mengatakan bahwa Tim Redaksi telah melakukan upaya otimal untuk menyelesaikan penyusunan majalah ini sesuai outline dan deadlineyang telah ditentukan.

"Setelah ini langsung menyiapkan majalah edisi VIII. Pekan pertama bulan Desember harus sudah jadi," kata Sekditjen.

Dirjen Badilag berterima kasih kepada Sekditjen Badilag beserta Tim Redaksi. Isi majalah ini, menurutnya, sesuai harapannya dan sangat bermanfaat bagi aparatur peradilan agama khususnya dan masyarakat pada umumnya.

"Semoga menjadi amal yang mendapat balasan berlipat-lipat dari Allah SWT," kata Dirjen Badilag.

 

Lantas, apa lagi yang baru dan menarik dari majalah yang terbit empat bulanan ini?

Selalu tidak mudah menjawab pertanyaan klise semacam itu. Lebih tidak mudah lagi jika pertanyaan itu disempurnakan menjadi: apa yang baru, menarik dan sekaligus penting?

Tiga hal itu--baru, menarik dan penting--memang sifat dasar yang melekat pada tiap-tiap publikasi yang terbit secara berkala. Tak terkecuali majalah ini, yang terbit berkala tiap empat bulan.

Tim Redaksi majalah ini lebih suka mempersilakan para pembaca untuk membuat penilaian sendiri: mana isi majalah ini yang baru, menarik dan penting. Mana pula yang mungkin sudah usang, membosankan dan tidak berguna.

Pada edisi kali ini, tema besar tentang pembaruan hukum Islam dalam bidang keluarga jadi suguhan utama. Relevansinya dengan tugas pokok peradilan agama sungguh nyata. Yang diolah dan disajikan tak cuma pengulangan dan penambalan terhadap tulisan-tulisan serupa di berbagai buku dan jurnal. Tim Redaksi berjuang untuk menonjolkan sisi-sisi baru, atau setidak-tidaknya mengurai persoalan lama dengan menggunakan perspektif baru yang menarik dan penting.

Penerbitan majalah ini pada edisinya yang ke-7 didahului dengan diskusi hukum berskala nasional, dengan narasumber Prof. Dr. H. M. Atho’ Muzdhar, MSPD. Pola serupa pernah dipakai sebelumnya, namun dalam beberapa edisi mutakhir, penerbitan majalah ini tidak disatupaketkan dengan diskusi serupa. Tentu, ada pelbagai sebab yang melatarbelakanginya.

Pada rubrik wawancara khusus, ada percikan pengalaman dan pemikiran Dirjen Badilag yang pertama: Wahyu Widiana. Ia peletak dasar fondasi keterbukaan informasi, pembudayaan TI dan akses terhadap keadilan bagi kelompok-kelompok rentan di peradilan agama.

Ada pula sajian-sajian lain dalam pelbagai rubrik yang punya daya pikat tersendiri, sekaligus bernilai guna buat para pembaca. Sebut saja misalnya rubrik Tokoh Kita yang menghadirkan profil hakim agung Dr. H. Mukhtar Zamzami, S.H., M.H., profil inspiratif PA Barabai, dan ulasan mengenai benang kusut mutasi. Seluruh suguhan itu menunjukkan bahwa peradilan agama terus berdinamika.

Tim Redaksi majalah ini juga berdinamika. Sebagian di antara mereka menjalani mutasi, sebagian lainnya dianugerahi promosi. Seperti bus, ada yang pindah antarkota dalam provinsi; ada pula yang hijrah antarkota antarprovinsi.

Tim Redaksi menyadari, sumbangsih mereka kepada peradilan agama melalui majalah ini masih belum seberapa dibandingkan dengan sumbangsih para pembaca tercinta. Meski demikian, ada harapan besar, sumbangsih yang kecil ini di kemudian hari dapat menjadi noktah-noktah yang turut mewarnai cerah-buramnya masa depan institusi kita.

[hermansyah] Repost by Ahmad Edi Purwanto